Berkunjung ke Pusat Peneluran Penyu PANGUMBAHAN

sumber: http://tourismindonesiaonline.com/berkunjung-ke-pusat-peneluran-penyu-pangumbahan/

December 9th, 2010 | 6:58 pm | author : TIO



Pantai Pangumbahan di kawasan Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, sudah lama menjadi tempat peneluran Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Secara alami hewan-hewan langka ini memilih tempat ini karena pasirnya yang lembut dan bersih dari karang-karang. Walaupun begitu tempat ini penuh dengan ancaman berbagai predator, baik biawak, burung, bahkan manusia.

Pangumbahan sendiri diambil dari kata Kumbah, artinya memandikan. Jaman dulu telur-telur yang menetas diambil dan dimandikan terlebih dahulu sebelum diternakkan atau dikonsumsi. Maka dari itu kawasan sekitar pantai ini disebut kawan pesisir Pangumbahan.

Di pusat peneluran Penyu Pangumbahan ini, setiap malam, banyak tamu datang berkunjung. Dalam sebulan, sebanyak 1000-1500 orang datang untuk melihat mahluk unik ini. Dengan luas 2.500m2 kawasan ini terdiri dari 6 pos yang berjarak setiap 400 meter dan dikelilingi tembok setinggi 3 meter sepanjang 3 kilometer untuk menutup area peneloran ke arah darat.

Berdasarkan keterangan Pak Cecep Penyu, begitu panggilan akrab pemandu berumur 55 tahun ini, baru 12 karyawan dan 3 pengawas yang resmi pegawai DKP. Sisanya pemandu sebagai pekerja lepas mendapat pemasukan dari para pengunjung yang datang.

Untuk pengunjung, pos 1 dan 2 saja yang diijinkan untuk dikunjungi. Dengan membayar Rp 5.000 pengunjung dapat melihat 2 atraksi yaitu pelepasan Penyu dan melihat Penyu bertelur.   Setiap sore pukul 17.30, tukik-tukik yang baru menetas dilepas oleh petugas  bersama para pengunjung. Malamnya pukul 21.00 pengunjung yang datang beramai-ramai melihat proses peneluran Punyu secara alami, juga bersama dengan para petugas. Awalnya pengunjung berkumpul terlebih dahulu di ruangan yang telah disediakan sebelum dipersilahkan oleh para petugas untuk melihat proses peneluran.  Kemudian setelah Penyu telah mulai bertelur, para pengunjung berangkat dipandu petugas.

Di tengah kegelapan pantai, puluhan orang menyusuri pantai sambil menyalakan senter menuju tempat sang Penyu bertelur. Beberapa larangan seperti tidak boleh mengarahkan sinar senter ke arah pantai dan mengarahkan sinar senter ke sisi depan atau kepala Penyu berkali-kali diingatkan petugas.  Tampak seekor Penyu di sebuah cekungan pasir sedang menelurkan telur-telurnya ke arah lobang yang sudah ia buat. Selama 15-20 menit, 100 telor dihasilkan. Selanjutnya telur-telur tersebut diambil oleh petugas untuk di tempat di lubang-lubang penetasan yang lebih aman. Dengan rata-rata kedalaman lubang 70cm, selama 40-60 hari telor tersebut akan  menetaskan dan dilepas ke laut. Lamanya pengeraman oleh kehangatan pasir tergantung oleh cuaca. Jika cuaca cerah akan semakin cepat penetasannya, jika banyak mendung atau hujan akan lebih lama.

Antusias para pengunjung tampaknya agak kurang diimbangi dengan kesadaran pengunjung sendiri untuk menaati peraturan yang disampaikan para petugas. Kadang banyak pengunjung mengarahkan sinar senternya ke sisi kepala Penyu. Apalagi para pengunjung ingin berfoto dengan hewan langka ini. Hasilnya situasi riuh mewarnai proses peneluran yang seharusnya tenang.

Mungkin dengan fasilitas yang ada seperti Aula, kantor, penginapan dan rumah karyawan, pelayanan untuk pengunjung bisa dimaksimalkan. Pengunjung dapat diberikan briefing sejenak sambil menungggu kesiapan sang Penyu. Bisa dengan diberi wawasan dan pengetahuan  baik berupa cerita atau pemutaran video seputar Penyu, sehingga pengunjung yang datang melihat  tidak saling berebut foto dan bertanya-tanya kepada petugas, bahkan jika perlu diberlakukan quota atau jumlah pengunjung yang melihat aktifitas Penyu,  agar kenyamanan dan keamanan, baik untuk pengunjung dan Penyu itu sendiri  tetap terjaga.

Namun secara umum dengan diambil alih oleh pemerintah dalam hal pengelolaannya,  Penyu-Penyu yang bertelur di sini semakin terjaga baik jumlahnya. “ Penduduk di sini semakin banyak yang sadar akan kelestarian Penyu dan ikut menjaga.., “ cerita Pak Cecep. Tentunya jika dimaksimalkan fasilitas dan rangkaian paket perjalanan pengunjung  dikemas lebih baik lagi, bukan tak mungkin nantinya Pangumbahan tidak hanya menjadi destinasi wisata wisawatan Nusantara tetapi juga Mancanegara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s