WWF Indonesia dan BPSPL Identifikasi Pesut Kalimantan

Jakarta – Untuk pertama kalinya, tim survei WWF Indonesia, bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, berhasil mempelajari dan mendokumentasikan keberadaan populasi pesut atau lumba-lumba air payau (Orcaella brevirostris) di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Selain menemukan pesut Orcaella brevirostris, yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Irrawaddy dolphin, tim survey juga menemukan satu kelompok lumba-lumba putih atau lumba-lumba punggung bungkuk (Sousa chinensis) di perairan tersebut. Ini merupakan indikasi keragaman hayati ekosistem air tawar/payau yang tinggi di perairan sebelah barat Kalimantan.

“Keberadaan pesut di kawasan perairan tersebut belum pernah diketahui sebelumnya, sehingga studi awal ini merupakan langkah menggembirakan,” kata Albertus Tjiu, ahli konservasi satwa dari WWF Indonesia yang juga terlibat secara aktif dalam survei tersebut, dalam siaran pers yang diterima Gatranews, di Jakarta, Sabtu (10/3).

Menurut Albert, ditemukannya populasi pesut tersebut mengindikasikan pentingnya peningkatan upaya perlindungan habitat satwa air tersebut, baik di hulu maupun hilir sungai, termasuk hutan bakau dan nipah di selat-selat sempit di perairan di Pulau Kalimantan.

Ancaman utama populasi pesut di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara di antaranya adalah konversi hutan mangrove –habitat satwa tersebut– untuk bahan baku industri arang, degradasi habitat hutan sekitar perairan untuk bahan baku bubur kertas (pulp) komersial, aktivitas lalu lintas air yang tinggi dan dapat menimbulkan stress bagi satwa tersebut, serta tercemarnya air sungai.

“Pelaku usaha yang beroperasi di sekitar perairan itu harus menerapkan praktek pengelolaan usaha yang ramah lingkungan atau best management practices serta memperhatikan sumber-sumber bahan bakunya agar tidak mengancam kelestarian hutan bakau dan perairan tersebut pada umumnya,” kata Albert.

Di dunia terdapat dua species pesut, yakni Orcaella brevirostris dan Orcaella heinsohni (Snubfin dolphin). Perairan-perairan di Indonesia umumnya dihuni populasi Orcaella brevirostris. Diperkirakan populasi tertinggi pesut terdapat di perairan hutan bakau Sundabarn, Bangladesh, dan India, dengan populasi sekitar 6000 ekor.

Adapun populasi lainnya terdapat di Sungai Mekong Kamboja, yaitu sekitar 70 ekor, Sungai Ayeyawardi di Myanmar, dan Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Ketiga lokasi ini dikategorikan memiliki populasi yang terancam kepunahan (critically endangered), sedangkan yang lainnya dikategorikan sebagai rentan (vulnerable).

“Perairan Kubu Raya dan Kayong Utara habitat pesut berada di hilir kawasan Heart of Borneo yang berada di wilayah Indonesia. Kelestarian hutan di daerah hulu sungai juga menjadi faktor yang sangat penting demi terpeliharanya ekosistem air tawar di bagian hilir dimana terdapat habitat pesut,” kata Tri Agung Rooswiadji, Koordinator Konservasi Air Tawar WWF-Indonesia.

“Ekosistem perairan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Sebagai spesies yang hidup di dua jenis perairan, tawar dan asin, pesut dapat menjadi spesies indikator yang mengindikasikan sehat atau tidaknya ekosistem perairan tersebut,” lanjutnya.

Berdasarkan studi mengenai populasi dan habitat satwa tersebut, diharapkan dapat ditentukan langkah-langkah serta kebijakan yang dibutuhkan untuk perlindungan populasi dan lingkungan di sekitarnya. “Survey di perairan Kubu Raya dan Kayong Utara ini merupakan survey awal, kami berharap akan ada survey lanjutan di sungai-sungai di bagian hulu seperti Sungai Kapuas, Sejenuh dan Mendawa,” kata Tri Agung.

Kris Handoko, Kepala Seksi Konservasi dan Pemanfaatan – BPSPL Pontianak, mengatakan bahwa BPSPL Pontianak sangat mendukung dilakukannya kajian lebih lanjut mengenai spesies pesut ini dan siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk terlaksananya monitoring dan program konservasi mamalia unik ini.

Sejak 2009 hingga saat ini, WWF Indonesia, BPSPL dan mitra lainnya telah melakukan kajian mengenai populasi dan habitat pesut di Kalimantan, yaitu di Sungai Sesayap Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur pada 2009-2010, dan Kubu Raya & Kayong Utara, Kalimantan Barat, pada Oktober 2011. [TMA]

sumber link: http://www.gatra.com/component/content/article/74-lingkungan/9883-wwf-indonesia-dan-bpspl-identifikasi-pesut-kalimantan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s