KKP Concern Coremap untuk Adaptasi Perubahan Iklim

KKP Concern Coremap untuk Adaptasi Perubahan Iklim

2013年7月6日

Jakarta, Harian Nusantara – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan terus concern pada Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program/Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang) CTI (coral triangle initiative) untuk mengadaptasi perubahan iklim dan dampaknya perubahan iklim terhadap sumber daya laut di Indonesia. Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memerlukan kebijakan, strategi adapatasi dan mitigasinya di tingkat regional dan lokal. “Pulau-pulau kita sangat banyak dan harus dimanfaatkan. Ini adalah anugrah Tuhan yang begitu besar. Sehingga sumber daya laut, alam, termasuk pulau harus dikelola dengan baik,” Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sharif C. Sutardjo mengatakan kepada Harian Nusantara (5/7).

Kondisi sekarang, 70 persen dari terumbu karang di wilayah perairan Indonesia sudah masuk kategori “baik” dan terjaga. Sementara sisanya, sekitar 30 pesen masih rusak dan akan direhabilitasi. Konservasi terumbu karang diberlakukan di sekitar 70 kawasan wilayah perairan di seluruh nusantara. “Penyebaran (kawasan konservasi) dari Papua terus turun ke bawah, sampai pulau Sumatera. Tahun ini, kegiatan konservasi sudahberlangsung di sekitar 90 kabupaten yang setara dengan 180 desa.”

Sementara itu, di tempat yang sama, Dirjen KP3K (kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil) akan terus memberdayakan satker (satuan kerja) Coremap di berbagai wilayah pesisir. Petugas Satker akan melatih masyarakat pesisir mengenai cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Karena selama ini, masih banyak masyakarat yang menggunakan racun sianida dan bom untuk penangkapan. “Indonesia luas, dan mengatasi hal itu memang sulit,” Dirjen KP3K Sudirman Saad mengatakan kepada Harian Nusantara.

Tetapi di beberapa kawasan yang menjadi target konservasi seperti Raja Ampat di Provinsi Papua Barat sudah semakin baik. Artinya kegiatan konservasi di Raja Ampat sudah memberi hasil. Masyarakat pesisirnya sudah sangat berorientasi pada lingkungan, khususnya wilayah perairan dan sumber daya ikannya. “Seperti waktu ada insiden penangkapan hiu. Terjadi tembak menembak sampai akhirnya ada nelayan yang tewas.”

Kondisi terumbu karang yang rusak parah, sebagian tidak lepas dari dampak bencana alam. Misalkan wilayah perairan di Aceh dan Nias, yang dihantam bencana tsunami pada akhir tahun 2004. Akibatnya banyak terumbu karang yang rusak parah. “Tetapi kita membangun proyek percontohan, yang patut ditiru untuk konservasi. Setelah lima tahun pelaksanaan Coremap tahap dua, indikator sudah nampak seperti di Raja Ampat, Wakatobi.”

KKP optimis dengan rencana penerapan tahap III Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program) atau Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang, kondisinya bisa semakin membaik. Bahkan bantuan dari lembaga-lembaga luar negeri seperti World Bank (WB/Bank Dunia) sangat membantu perbaikan terumbu karang yang rusak. “Kita akan menentukan daerahnya dan bekerjasama langsung dengan masyarakat pesisir setempat.”

Sementara itu kerjasama dengan berbagai universitas dalam dan luar negeri terus ditingkatkan. Kerjasama tersebut nantinya membuka peluang dan kreativitas, inovasi universitas untuk mencegah bencana seperti perubahan iklim. Sehingga symposium internasional mengenai perubahan iklim di kawasan segitiga terumbu karang (CTI/coral triangle initiative) dinilai sangat tepat. “Saya harap, bukan hanya akademisi, tetapi juga LSM (lembaga swadaya masyarakat), swasta, pemerintah memberi yang lebih baik lagi bagi kepentingan dunia, terkait dengan kelestarian lingkungan.”

Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan lima negara untuk mengelola pemanfaatan secara lestari terumbu karang serta ekosistem terkait di Indonesia. Kerjasama tersebut pada gilirannya akan menunjang kesejahteraan masyarakat pesisir. Kerjasama CTI tersebut terkonsentrasi pada peningkatan ketahanan pangan, kelestarian sumber daya ikan, dan terumbu karang. CTI antara lain meliputi negara Filipina, Malaysia, Kepulauan Solomon, Timor Leste dan Papua Nugini. “Kerjasama akan menjaga daerah (wilayah perairan) masing-masing di kawasan segitiga dalam satu secretariat bersama.”

Sementara itu APRU (Association of Pacific Rim Universities) melihat perlunya kegiatan riset dasar, aplikasi, kebijakan dan pengembangan saintifik untuk kegiatan pelatihan terkait perubahan iklim. Sehingga kerjasama RCCC-UI (research center for climate change-UI/universitas Indonesia) yang beranggotakan 42 universitas riset terkemuka akan member kontribusi pada masyarakat global. “Kerjasama akan ditingkatkan pada upaya pembentukan pendidikan tingkat tinggi dan penelitian di asia pacific. Kita mencari solusi atas tantangan yang dihadapi negara-negara di Asia Pacific,” Jeremy Piggott, Direktur Research & Enterprise Partnerships-APRU mengatakan kepada HN pada symposium di hotel Sultan (4/7).

Symposium internasional akan menjembati berbagai pihak, terutama universitas untuk mengatasi perubahan iklim, sumber daya kelautan dan masyarakat pesisir. APRU dan RCCC UI melihat perlunya peningkatan kerjasama yang sudah berlangsung sejak tahun 2011. Pada saat itu, UI terlibat langsung dalam penyelenggaraan Polar Norway Exhibition, dan perkuliahan mengenai perubahan iklim. Bahkan menteri lingkungan hidup dan pembangunan internasional Norwegia, Erik Solheim dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Muhammad Nuh juga sempat hadir pada acara tersebut. “Perubahan iklim sudah mendesak kehidupan kita. Ini adalah realita, dan kita sudah melihat berbagai fenomena alam yang ekstrim, seperti suhu temperature yang meningkat, curah hujan yang tidak normal, banjir besar, hurricanes, kemarau panjang, kebakaran hutan dan lain sebagainya. Bahkan hurricane Katrina di New Orleans, dan Tornado di Oklahoma juga memberi dampak kerugian yang sangat besar.”

Sementara di Jakarta, dampak dari fenomena alam yang ekstrim berakibat pada banjir dan genangan air yang lama surutnya. Sehingga tidak ada cara lain kecuali para pemimpinnya bersama membahas solusi ke depannya, termasuk pembahasan di symposium. Beberapa kota besar, termasuk Jakarta sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan kegiatan ekonomi. Tetapi hal lain yang harus menjadi concern adalah permasalahan sosial dan fisik lingkungan. Semua pihak harus terlibat langsung dalam mengatasi perubahan iklim. “Kita harus menjamin bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berdampak pada pengrusakan lingkungan. Kalau lingkungan terus terdegradasi, ekonomi juga akan mengalami hal yang sama. Sehingga peran universitas harus lebih diberdayakan agar bisa bersama-sama pihak lain mengatasi perubahan iklim.” (Liu)

sumber: http://qiandaoribao.com/news/33426

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s