Copas Media: I GUSTI AGUNG PRANA, PENYEMANGAT EKOWISATA DESA PEMUTERAN

Harian Kompas

GAYA HIDUP > SOSOK > PENYEMANGAT EKOWISATA DESA PEMUTERAN

I GUSTI AGUNG PRANA
Penyemangat Ekowisata Desa Pemuteran
AYU SULISTYOWATI Cetak | 30 Maret 2016

Tiga puluh tahun lalu, Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali, belum dikenal dan sebagian besar warganya hidup miskin. Kini, desa itu menggeliat sebagai tujuan ekowisata dan masyarakat lebih sejahtera. I Gusti Agung Prana membantu mereka mengembangkan potensi daerah itu sehingga tersohor ke seluruh dunia.

image

I Gusti Agung Prana

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI

Mutiara yang terpendam. Demikian Agung Prana menyebut Desa Pemuteran saat pertama kedatangannya pada tahun 1986. Saat itu, tebing-tebing menawan, pantai, alam hijau, dan laut biru di daerah tersebut hanya dianggap sebagai pelengkap pemandangan bagi warga setempat.

”Mereka belum memahami arti keindahan alami yang mengelilingi rumahnya. Mereka hanya paham, menjadi nelayan adalah takdir, mengeluh ketika ikan tak ada di jaring. Mereka miskin dan desa gersang,” kata Gung Prana di rumahnya, Mengwi, Badung, Bali, awal Maret lalu.

Masyarakat Pemuteran kala itu menganggap tebing dan lautan dengan tanah gersang minim air bersih tersebut sebagai lahan yang kurang berguna. Karena itu, mereka menggantungkan hidup dari penjualan ikan tangkapan ke pasar.

Gung Prana mendatangi dan meyakinkan mereka, jika dijaga kelestarian dan keseimbangannya, lingkungan tempat tinggal mereka yang indah itu bakal menghasilkan sesuatu yang lebih daripada ikan. Namun, tidaklah mudah untuk menanamkan pemahaman itu kepada warga setempat yang hidup miskin.

Gung Prana lahir di Mengwi, Badung, berjarak sekitar 160 kilometer ke Pemuteran. Namun, dia merasa dituntun kekuatan spiritual sehingga jatuh cinta pada Desa Pemuteran.

Pengalaman di dunia pariwisata menjadi pramuwisata serta travel lebih dari 10 tahun membuat Gung Prana percaya bahwa Pemuteran bakal bisa dikembangkan sebagai tujuan wisata yang menarik. Selama bekerja di pariwisata, dia paham betul apa sebenarnya yang membuat wisatawan, terutama asing, mau bolak-balik mengunjungi Bali.

”Jawabnya adalah alam, lingkungan, dan budaya. Keasrian Bali membawa mereka (wisatawan asing) terus ingin datang. Sekarang, Bali pun mengalami perkembangan pembangunan, tapi ekowisata masih bisa diandalkan. Hanya saja, semua perlu manajemen yang pas,” tuturnya.

Untuk meyakinkan masyarakat tentang potensi ekowisata Desa Pemuteran, Gung Prana menyodorkan bukti. Dia menyewa 10 bus wisata untuk mengajak warga berkeliling di kompleks hotel terpadu Nusa Dua di Kabupaten Badung. Mereka takjub akan keasrian kompleks tersebut. Dan, Gung Prana menegaskan, Pemuteran bisa lebih dari Nusa Dua.

Gung Prana bahkan rela menjual satu mobilnya demi mewujudkan mimpinya akan Pemuteran masa depan. Tindakan itu sempat membuat istrinya kurang yakin dengan optimisme sang suami.

Optimisme mulai menguat setelah masyarakat Desa Pemuteran pulang dari Nusa Dua. Mereka bersemangat membangun desanya. Gung Prana menemani dan menyemangati mereka untuk menjaga lingkungan agar semakin asri. Ikan akan datang dengan sendirinya ketika terumbu karang laut tumbuh sehat serta terawat. Udara segar berembus sejuk.

Yayasan Karang Lestari

 

I GUSTI AGUNG PRANALAHIR:

Umabian, Bali, 12 Juli 1948

PEKERJAAN:

Pemilik dan Managing Director Bali Nagasari Tours & Travel, Taman Sari Bali Cottages, Puri Taman Sari Village Tetap, dan Amertha Bali Villas

PENDIDIKAN:

Akademi Pariwisata Bali (D-1) (1969-1970)

KEGIATAN LAIN:Ketua Karang Lestari Reef Restoration di PemuteranWakil Ketua Bali Tourism BoardKetua Asosiasi Indonesia Travel Agencies (Bali Chapter)Direksi Bali Budaya Situs WarisanPENGHARGAAN:Lokal, pelopor hotel ekologi ramah butik dan pariwisata berbasis masyarakat, Pemuteran Bali UtaraKonas Award, Proyek Manajemen Pesisir Terbaik dari Konferensi Manajemen Zona Pesisir Nasional untuk Yayasan Karang Lestari (2002)Best Underwater Air Ekowisata Project dari SKAL Internasional untuk Yayasan Karang Lestari (2002)Tri Hita Karana Award untuk Yayasan Karang Lestari (2011)Sustainable Tourism Development dari Departemen Pariwisata (2012)

 

Tahun 1989, Gung Prana membentuk Yayasan Karang Lestari guna menampung bantuan dari sejumlah teman dan koleganya untuk membangun Pemuteran. Sebagai langkah awal, ia mengajak masyarakat dan dirinya berkomitmen dalam pura seusai bersembahyang bersama. Mereka berjanji untuk setia menjaga alam, ekosistem, dan tidak pernah lagi merusaknya. Jika ada yang merusak, mereka siap mengamankannya.

Keterlibatan masyarakat dalam menjaga alam menjadi kunci keberlanjutan proyek bersama pengembangan desa itu. Rasa memiliki dan mencintai desa menjadi motor penggerak untuk sama-sama saling menjaga lingkungan. Mereka kian berdaya dan bertanggung jawab.

Semenjak persembahyangan bersama itu, masyarakat setempat berhenti merusak alam. Terumbu karang mulai diperbaiki dan dirawat. Air bersih yang semula sulit ditemukan tiba-tiba mengucur deras. Sumber air itu bisa dimanfaatkan bersama-sama warga. Warga berhenti menggunakan air laut untuk keperluan mandi cuci kakus.

Gung Prana mulai membangun rumah sederhana yang menjadi cikal bakalhomestay bagi tamu menginap. Enam bulan berjalan, keasrian Pemuteran mulai dilirik publik. Enam wisatawan asing datang dan menginap semalam. ”Saat itu, saya tidak memberikan tarif kepada enam turis pertama itu. Saya hanya meminta 10 dollar AS per orang dan uang itu pun masih utuh tersimpan,” ujar Gung Prana.

Masyarakat menyambut perkembangan itu. Terumbu karang mulai bertumbuh dan ikan semakin banyak. Ekowisata Pemuteran pun mulai berjalan. Restorasi awal terumbu karang pada tahun 1992-1996 membawa hasil menggembirakan.

Pertumbuhan terumbu karang di kawasan itu juga berkat sokongan dua ilmuwan ahli terumbu karang, yaitu Wolf Gilbert dan Tom Guroau. Pada tahun 2001, keduanya membantu sekaligus meneliti pengembangan teknologibiorock. Sebelumnya, metode ini pernah diterapkan di beberapa negara, tetapi gagal. Sebaliknya, metode tersebut justru berhasil di Pemuteran. Keberhasilan itu diraih berkat keterlibatan masyarakat dalam penjagaan dan perawatan.

Rumah-rumah terumbu karang kian berkembang dan menjadi percontohan kekayaannya di dunia. Snorkeling dandiving kini menjadi salah satu hiburan favorit wisatawan yang mengunjungi Pemuteran.

Tamu-tamu berdatangan dan membawa berkah. Rumah-rumah warga ramai jadi tempat menginap wisatawan.

Tak hanya itu. Para pemuda dilatih menyelam dan menanam terumbu karang. Mereka semakin peka dengan alam dan lingkungan. Sedikit saja ada gelagat tak baik, seperti ada orang berniat mencuri ikan dengan potasium atau bom, pecalang (pengamanan dari adat) pun bergerak. Ada 30-an pecalang yang bergantian menjaga laut, termasuk terumbu karang.

Masyarakat menjadi lebih berdaya. Bersamaan dengan jumlah kunjungan wisatawan yang meningkat, uang pun masuk ke desa itu. Semangat hidup warga semakin menyala.

”Rumah mereka itu surga yang bakal dicari di dunia pariwisata. Ekowisata tak ada matinya jika keseimbangan dan pemberdayaannya terus terjaga. Itu kuncinya,” tegas Gung Prana.

Kini, Pemuteran dikenal di tingkat nasional dan internasional. Beberapa penghargaan pun diraih desa tersebut. Semua itu tak lepas dari jerih payah semua pihak, terutama masyarakat desa itu sendiri.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Maret 2016, di halaman 16 dengan judul “Penyemangat Ekowisata Desa Pemuteran”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s