DSCP: CATATAN PERTEMUAN KONSULTASI PUBLIK PROGRAM KONSERVASI DUGONG DAN PADANG LAMUN, KAB. KOTAWARINGIN BARAT

Poin-poin dalam Konsultasi Publik Dugong and Seagrass Conservation Program (DSCP) di Kotawaringin Barat

Tanggal 4 Agustus 2016, Kantor DKP Kotawaringin Barat

Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkenalkan program konservasi dugong dan lamun di Kab. kota waringin Barat, mendapatkan dugungan lokal, mengidentifikasi daerah spesifik habitat dugong dan lamun, dan memetakan kondisi dan potensi lokasi proyek. Dugong telah dilindugi penuh secara Nasional melalui PP No.7 Tahun 1999 dimana dugong tidak boleh ada pemanfaatan langsung namun masih diperbolehkan pemanfaatan tidak langsung; beberapa kegiatan yang akan dilakukan oleh Kab. Kotawaringin Barat dalam rangka DSCP diantaranya: membentuk Dugong and Seagrass Conservation Collaboratif management Board (DSCCMB), pelatihan masyarakat dan pembentukan pokmas, penelitian dengan Perguruan Tinggi lokal, harmonisasi pengelolaan perikanan dengan konservasi;

IMG-20160804-WA0041

Peserta Konsultasi Publik DSCP di Kotawaringin Barat, 4 Agustus 2016

beberapa poin catatan dalam diskusi diantaranya sebagai berikut:

  • Belum diketahui potensi dugong dan habitat lamun yang dapat dijadikan isu lingkungan
  • Di Desa Sabuai akan dibangun pelabuhan lepas, upaya pembangunan yg berpotensi menjadi ancaman terhadap padang lamun dan mangrove, agar menjadi perhatian kita.
  • Isu dugong dan lamun menjadi salah satu kajian dalam usulan RPJM Kobar
  • Diperlukan penyadartahuan kepada masyarakat tentang perlindungan dugong dan sanksi bagi pelanggarannya.
  • BKSDA, AIRUD, Babinsa, Babinkamtibmas, Dinhub, Kecamatan Kumai agar ikut dilibatkan dalam proyek DSCP.
  • Badan Lingkungan Hidup mendukung DSCP di Kobar
  • Wisata bahari dapat dijadikan mpa bagi masyarakat pesisir/nelayan. Dengan wisata bahari diharapkan lingkungan akan dijaga karena sebagai andalan obyek wisata.
  • Kumai, Gosong Senggora tempat singgah para nelayan, sehingga bisa dibentuk pokmas yg bisa mengelola kawasan ini sebagai obyek wisata.
  • DSCP diharapkan dapat mendukung pengembangan wisata bahari di Kobar sehingga menjadi destinasi wisata internasional.
  • Pelabuhan apung sebagai tempat berlabuh/tambat kapal2 wisata yang datang ke Kobar, baik local maupun dari internasional.
  • Perburuan dugong di 3 desa baik yg sengaja diburu maupun yg tertangkap tidak sengaja.
  • Diharapkan salah satu wakil masyarakat dari ke3 desa dijadikan ujung tombak dari konservasi dugong dan lamun.
  • Masyarakat diharapkan membangkitkan kearifan local, membentuk perdes dugong dan lamun.
  • Sepanjang sungai Kumai, resiko pencemaran dari arah sungai Kumai ke arah laut lepas dari pelabuhan kayu dan pelabuhan cvo/sawit. Diperlukan pencegahan sedini mungkin untuk pencemaran ini.
  • Sungai Kumai sebagai lalu lintas transportasi kayu, dimana kayu2 yg jatuh bisa merusak lamun, juga meningkatkan sedimentasi. Diperlukan SOP bagi “limbah” kayu yang jatuh ke sungai.
  • Pengurangan area mangrove akibat pembangunan di pesisir (pembangunan perusahaan), agar perusahaan2 tsb diharuskan mengganti mangrove sebesar luasan yg ditebang. Perusahaan2 sawit tsb adalah: Kapuas, Sinar Alam Permai, Bumi Langgeng, Perdanatrada, Citra Borneo Indah.
  • Prodi Sumberdaya Perairan, Fak. Pertanian Univ. Antakusuma telah melakukan 3 penelitian tentang manfaat nilai tambah mangrove di masyarakat di Sungai Bakau. Belum ada penelitian spesifik tentang dugong dan lamun.
  • BPSPL Pontianak bekerja sama dengan LIPI dan DKP Kobar telah melaksanakan survey dugong dengan kueisoner dari UNEP, sosialisasi FGD dengan masyarakat dan pengamatan habitat lamun (habitat dugong dan jenis lamun). FGD di 3 desa, dihadiri 31 orang dengan pertanyaan terkait dugong, lamun dan persepsi masyarakat.
  • Pengamatan dugong dilakukan di lokasi dugong tertangkap: Gosong Beras Basah, Gosong Sepagar dan Gosong Senggora. Hallophyla sebagai lamun disukai dugong. Dugong tidak diketemukan selama survei tetapi ada feeding track. Gosong Senggoara sebagai tempat favorit dugong karena lebih banyak lamun.
  • Manfaat penting lamun dipahami oleh masyarakat, namun untuk dugong masih belum. Berdasarkan info dari masyarakat penampakan dugong tidak lebih dari 10 ekor.
  • Di DAS banyak tambang legal maupun illegal yg berkontribusi pada sedimentasi
  • Potensi wisata harus didukung dengan transportasi, fasilitas dan akomodasi di lokasi/desa.
  • Kerapatan lamun semakin menurun karena aktivitas nelayan, perlu disusun suatu regulasi tentang pelestarian dugong dan lamun.
  • Pemanfaatan wilayah laut perlu ditetapkan zonasinya. Kemudian dilakukan sosialisai zona inti kepada masyarakat
  • Telah dibuat surat edaran larangan pemasangan jaring selama 1-2 hari di teluk lamun kepada nelayan Desa Kubu, untuk mencegah dugong terjerat mati. Masyarakat Kubu tidak lagi berburu dugong.
  • Terakhir 2010 ditemukan dugong sebesar 60 kg, sampai sekarang tidak ditemukan tanda2 dugong mampir di Kubu. Kondisi lamun membaik karena adanya pelarangan kepada nelayan.
  • Aktivitas kapal keruk di Sungai Kumai selama 5 bulan berdampak kepada penghasilan/hasil tangkap nelayan.
  • Draft perdes Kubu masih menunggu keluarnya perda zonasi kawasan lamun agar sesuai.
  • Hamparan habitat lamun di pesisir Ds Teluk Bogam kurang lebih 5 mil. Dugong masih ada sampai sekarang, terakhir ditemukan 2015 sebesar 200 kg. Dugong muncul di Teluk Bogam pd musim pancaroba (Sept-Oktober dan April-Mei) setahun 2 kali dengan rute migrasi selatan-utara, paling banyak di Gosong Beras Basah dan Senggora, juga ditemukan penyu di daerah ini.
  • Saran agar isu dugong ini bisa dikelola oleh Dinas Pariwisata.
  • Desa Sungai Bakau mendukung program pelestarian dugong dan  biota lainnya.
  • Hamparan lamun kurang lebih 5km??. Dengan adanya perlindungan lamun ini menimbulkan keprihatinan nelayan Sungai Bakau yang menggunakan kawasan lamun sebagai jalur ke laut.
  • Saran: dibuat pemecah ombak dan membuat akses ke pelabuhan tempat kapal nelayan berlabuh.
  • Kegiatan penamaman mangrove setiap tahun dilakukan di Desa Sungai Bakau oleh msyarakat namun tidak terlalu banyak, penanaman ini diperlukan karena perubahan iklim dan pengurangan debit air.
  • Pokmaswas Desa Kubu: papan sosialisasi padang lamun di desa Kubu, senggora dan sepagar sudah mulai rusak, agar dapat diperbaharui.
  • Kebanyakan masyarakat Desa Sungai Bakau generasi muda tidak tahu bentuk dugong seperti apa karena sudah sulit ditemukan sekarang.
  • Di barat pesisir Pangkalan Bun terdapat banyak lamun: Desa Batu Titi, banyak pulau terdapat di sana
  • Agar dapat mencontoh pariwisata di Kupang, nelayan Kupang menjadi operator wisata yg mengantar wisatawan melihat hewan2 langka spt hiu, pari dan dugong. Destinasi wisata dugong bisa dijual di Kobar, dengan memanfaatkan musim kapal2 yg berdatangan di Kumai yaitu ada 2-9 Oktober 2016, dan pd tanggal 15 Okt ada Sail Kalimantan dan merupakan even tahunan.
konsultasi publik dugong kobar

Suasana Diskusi Konsultasi Publik

 

Tindak lanjut:

  • Preliminary survey oleh Tim LIPI disarankan dilakukan pada bulan Oktober.
  • Mengembangkan wisata bahari di desa lokasi proyek DSCP, termasuk fasilitasnya (transportasi dan akomodasi).
  • Membuat/memperbaiki papan-papan informasi konservasi dugong dan lamun di desa lokasi proyek, termasuk di gosong2.
  • Membangun pos jaga (contoh pos apung) di Gosong Senggora dan Gosong Tanah Basah yang dapat dimanfaatkan oleh pokmaswas
  • Menyediakan transportasi dan akses ke Gs. Senggora dan Gs. Tanah Basah untuk wisatawan

 

WhatsApp Image 2016-08-04 at 15.23.46

menunjuk gosong pasir putih yang belakang. . . ada tiang putih. . . lokasi Gosong Beras Basah. . .disebelah sananya itulah habitat dugong . . . #Kades Teluk Bogam

WhatsApp Image 2016-08-04 at 19.07.46

kepiting, udang, senangin. . . diantara menu yang dicicipi di kota waringin barat

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s