RENCANA AKSI NASIONAL KONSERVASI DAN PENGELOLAAN HIU DAN PARI (2016-2020)

cover-rencana-aksi-nasional-konservasi-pengelolaan-hiu-dan-pari

Ikan hiu dan pari merupakan kelompok sumber daya  yang dapat diperbaharui , jika penangkapan hiu dan pari dilakukan secara bijaksana yaitu dengan melakukan penangkapan tidak melebihi jumlah yang diperbolehkan  (total allowed catch) maka sumber daya ikan hiu akan tetap lestari. Saat ini pemanfaatan ikan hiu dan pari secara global sudah cukup mengkhawatirkan , tingginya jumlah permintaan sirip hiu dan sirip pari di dunia internasional telah menyebabkan tanda-tanda over eksploitasi penangkapan hiu dan pari di banyak negara, termasuk Indonesia . Dari kacamata ekonomi, tingginya harga sirip hiu dan pari di dunia akan memberikan keuntungan secara finansial bagi masyarakat nelayan dan juga merupakan sumber devisa negara, namun demikian kegiatan penangkapan yang melebihi batas kemampuan pulih dan penangkapan yang dilakukan dengan cara-cara  yang tidak ramah lingkungan telah menjadi ancaman yang serius bagi kelestarian  sumber daya hiu dan pari di banyak negara, termasuk di I ndonesia .

Perikanan hiu dan pari mempunyai karakteristik yang unik, sekitar 70% produksi hiu dan pari dihasilkan dari hasil tangkapan sampingan pada pengoperas ian berbagai jenis alat tangkap, seperti handline, rawai dangillnet,jaring arad, danpurs eseine.Alat penangkap ikan yang khusus untuk menangkap ikan hiu adalah rawai cucut,sedangkan ikan pari jenis liong bun ditangkap dengan menggunakan jaring liong bun . Isu tentang praktekflnning dalam perikanan hiu di Indonesia mungkin pernah terjadi di waktu yang lalu, saat ini hampir semua bagian tubuh hiu yang tertangkap dimanfaatkan , tidak hanya bagian sirip, daging, tulang, kulit dan bagian hatinya j uga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan .

Kekhawatiran akan bahaya kepunahan hiu dan pari dan penurunan populasi ikan hiu dan pari di banyak negara telah menyebabkan keprihatinan dunia internasional .Pada tahun 2013, konvensi perdagangan internasional tumbuhan  dan  satwa  liar atau CITES (Convention on Internasional Trade of Endang ered Species of Wild Flora and Fauna) telah memasukkan 5 (lima) spesies hiu dan 2 (dua) spesies pari manta dalam daftar Apendiks II, ini berarti bahwa perdagangan internasional spesies tersebut harus dilakukan dengan kontrol yang ketat sesuai  dengan ketentuan CITES.

Perikanan hiu juga dikaitkan dengan pengelolaan perikanan tuna, tidak dipungkiri bahwa dalam kegiatan penangkapan tuna juga tertangkap ikan hiu , hal ini disebabkan karena adanya kesamaan habitat dan jenis makanan antara tuna dan hiu . Banyak inovasi yang sudah dilakukan untuk mengurangi hasil tangkapan hiu dalam penangkapan tuna oleh Pemerintah Indonesia bersama stakeholders, beberapa regulas i yang terkait dengan perikanan tangkap secara eksplisit mewa j ibkan  pemilik kapal untuk melepaskan ikan hiu yang tertangkap dalam kondisi hamil dan anakanhiu.

Upaya pengelolaan hiu dan pari dilakukan oleh banyak stakeholders, tidak hanya di lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan tetapi j uga dilakukan oleh pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat. Dokumen Rencana Aksi Nasional Konservasi dan Pengelolaan Hiu dan Pari ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi banyak pihak dalam pengimplementas ian pengelolaan hiu dan pari di Indonesia .

 

Dokumen Rencana Aksi Nasional Konservasi dan Pengelolaan Hiu dan Pari selengkapnya sebagai berikut: rencana-aksi-nasional-konservasi-pengelolaan-hiu-dan-pari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s