Penampung Insang Pari Manta Ditangkap di Lembata, NTT  

Kepolisian Resort (Polres) Lembata dengan dukungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Wildlife Crimes Unit melakukan operasi tangkap tangan terhadap seorang penampung insang pari manta di Lembata, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 22 November 2016. Barang bukti berupa 25 kg insang pari manta, yang diduga diperoleh dari 30-40 ekor pari manta. Pelaku didakwa melakukan tindak pidana menampung hasil laut tanpa ijin dan menampung bagian tubuh satwa yang telah dilindungi di Indonesia. Saat ini, pelaku masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik dari Polres Lembata. Berdasarkan informasi awal, jaringan perdagangan insang pari manta berada di Jawa, Makassar, dan Kupang.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjelaskan bahwa Pari Manta merupakan jenis biota laut terancam punah yang dilindungi secara penuh di wilayah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor. 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Pari Manta. Ini berarti bahwa penangkapan dan perdagangan pari manta serta bagian-bagian tubuhnya tidak diperbolehkan sama sekali, pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenakan sanksi hukum sesuai peraturan perundangan. Melalui Keputusan Menteri tersebut, KKP secara resmi melarang perburuan dan perdagangan pari manta di Indonesia. Pelanggaran terhadap ijin pengumpulan hasil perikanan terancam hukuman 8 (delapan) tahun penjara dan denda maksimal Rp 1.500.000.000.-, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Perikanan. Hingga November 2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kepolisian Republik Indonesia, dan Bea Cukai tercatat telah melakukan 35 kali operasi penangkapan terhadap pelaku perdagangan insang dan produk dari pari manta di NTB, NTT, Makassar, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Sebanyak 20 kasus telah vonis, 13 pelaku dihukum penjara dan denda sampai dengan Rp. 50 juta rupiah.

Brahmantya Satyamurti Poerwadi, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, KKP menambahkan keanggunan dan keelokan pari manta mempunyai daya tarik yang besar bagi para penyelam dan berpotensi sebagai salah satu aset penting dalam pengembangan wisata bahari di Indonesia. Kegiatan pariwisata bahari berbasis Pari Manta yang berkembang akan memberikan manfaat secara ekonomi tidak hanya kepada pelaku wisata semata, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat nelayan. Apabila dilihat dari sisi ekonomi, model pemanfaatan pari manta melalui kegiatan wisata bahari merupakan alternatif yang menjanjikan. Berdasarkan studi yang dilakukan pada 2013, Indonesia memiliki pariwisata berbasis manta terbesar ketiga di dunia, dengan estimasi nilai total tahunannya mencapai US$ 15 juta. Di TWP Nusa Penida Kabupaten Klungkung-Bali misalnya, setiap ekor Pari Manta apabila dibiarkan hidup (40 tahun) dapat berkontribusi hingga Rp. 9,75 Milyar melalui wisata bahari. Nilai ekonomi pari manta sebagai asset wisata penyelaman tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan nilai jual daging dan insang peri manta dipasaran, dimana 1 ekor pari manta hanya mempunyai nilai jual sekitar ± Rp. 1 juta. WCS Indonesia mengapresiasi keseriusan pemerintah Indonesia dalam melindungi pari manta sebagai biota kharismatik dan aset keanekaragaman hayati laut Indonesia.

Perlindungan Pari Manta di Indonesia lebih Advance

Pemerintah telah menetapkan dua jenis pari manta, yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris), sebagai ikan yang dilindungi. Secara internasional kedua jenis pari manta tersebut saat ini terancam punah dimana IUCN memasukkannya dalam kategori ‘Rentan’ terhadap kepunahan menurut IUCN Red List of Threatened Species dan Convention on Internasional Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) tahun 2013 lalu memasukkannya dalam Apendiks II yang berarti ikan pari manta belum terancam punah tetapi bisa punah kalau perdagangannya tidak terkontrol.  bahwa jenis ikan ini dapat diperdagangkan secara internasional namun harus melalui kontrol yang ketat.

Ancaman utama penurunan populasi pari manta selain disebabkan oleh degradasi lingkungan juga oleh tingginya permintaan terhadap insang pari manta. Dari aspek biologi ikan pari manta juga rawan mengalami ancaman kepunahan, hal ini disebabkan karena pari manta baru mencapai matang seksual pada umur 8 -15 tahun dan jumlah anakan yang dihasilkan hanya 1 (satu) ekor untuk setiap periode kehamilan (2-5 tahun). Ikan pari manta dapat mencapai umur 40 tahun, ini berarti 1 ekor ikan pari manta hanya mampu menghasilkan paling banyak 6-8 ekor anakan saja selama hidupnya.

Di lain sisi Indonesia merupakan salah satu dari sedikit wilayah di dunia ini yang memiliki dua jenis spesies manta yatu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris) yang dapat menjadi daya tarik wisata. Pari manta merupakan ikan pari terbesar dan kharismatik di dunia dengan bentang sayap mencapai 7 meter, tidak berbahaya, dan tidak memiliki racun yang membuat ekornya berbahaya. Wisatawan bawah air menganggap bahwa pertemuan dengan manta merupakan pengalaman yang luar biasa dan bersedia membayar lebih untuk mengalaminya.

Dengan demikian aturan perlindungan pari manta di Indonesia jauh lebih advance dari pada perlindungan dunia.

whatsapp-image-2016-11-26-at-17-56-06

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s